Posted on

Rudy Ramli, Mulai Dari Nol Lagi

JAKARTA (SLARAS) – Ditutupnya atau beralihnya kepemilikan Bank Bali pada akhir 1990-an, membuat Rudy Ramli, sebagai Direktur Utama bank swasta itu, serta merta menjadi ‘pengangguran’. Selain ‘menganggur’, Rudy Ramli juga kehilangan segala-galanya.

Bukanlah hal yang mudah bagi seorang pebisnis atau bankir yang sudah sempat masuk ke papan atas, tiba-tiba harus ‘jatuh’ dan harus menghadapi perubahan status seperti itu. Apalagi berubahnya kepemilikan Bank Bali, bukan hal yang dikehendaki. Tetapi sebuah keadaan yang bisa disebut sebuah keterpaksaan itu.

Sementara itu, kehidupan harus berjalan. Itulah yang membuat, Rudy Ramli harus “move on”.

“Saya sekarang menekuni bisnis pembayaran – payment business”, ujar Rudy Ramli Selasa petang, 22 Nopember 2016.

Bisnis Pembayaran, berkaitan semua transaksi ; seperti kartu kredit, listrik dan sebagainya.

Bisnis barunya memang masih di sekitar keuangan dan perbankan. Relasi-relasinya juga masih berputar-putar di dunia perbankan.

Hanya memang Rudy mengakui, untuk menjalankan bisnis barunya, memerlukan sebuah ekstra usaha. Tidak beda dengan pengusaha baru yang harus memulai dari nol.

SLARAS menemui Rudy Ramli di salah satu kantornya, berhubung ada pembaca yang bertanya apa yang dilakukan oleh bankir tersebut saat ini.

Pembaca, sekalipun tidak mengenalnya secara pribadi, tetapi bagi dia, Rudy Ramli merupakan bankir sukses di era sebelum reformasi.

Ketika ditemui, Rudy memang nampak cukup sibuk. Dia masih memimpin rapat, tetapi sebuah rapat lainnya, sudah menunggu.

Sebelum menekuni bisnis pembayaran, Rudy sempat menangani bisnis mesin “switching” untuk transaksi keuangan.

Situasi dan jenis bisnis yang ditangani saat ini, cukup berbeda dengan ketika menangani Bank Bali di tahun 1990-an. (*)

rudy-ramli-1

Foto Rudy Ramli sekarang

 

Sumber: http://slaras.id/2016/11/22/rudy-ramli-mulai-dari-nol-lagi/

 

Posted on

Rudy Ramli, Bankir Teraniaya

JAKARTA (SLARAS): Masih Ingat Bank Bali? Boleh jadi sudah banyak yang lupa atau melupakannya. Maklum selain nama bank itu sudah tak terlihat lagi logo atau papan namanya di berbagai tempat, secara resmi bank tersebut sudah melebur atau dilebur ke dalam sebuah bank swasta – Bank Permata.

Kendati demikian ikatan emosional para eks karyawannya terasa masih sangat kuat. Selah-olah Bank Bali masih beroperasi, masih berkutat di dunia perbankan. Hal ini terlihat dari acara reuniannya.

Awal September 2016 yang lalu, sebuah reuni akbar digelar di MNC Tower Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Mereka yang hadir, bukan saja dari yang berdomisili di Jakarta, tetapi ada yang datang dari luar ibukota bahkan luar Pulau Jawa.

Kegiatan reuni, sekalipun diisi dengan program yang bukan melankoli, tetapi rasa rindu bercampur rasa sakit akibat matinya bank tersebut sangat terasa atau terlihat dari wajah-wajah para bekas karyawan.

‘Kematian’ Bank Bali sendiri sudah cukup lama, sudah hampir dua puluh tahun.

Inilah salah satu sisi yang menarik dari reuni Bank Bali tersebut. Seolah-olah ‘kematian’ yang telah terjadi hampir dua puluh tahun itu, baru terjadi dua puluh hari yang lalu.

Rasa rindu atas Bank Bali, bank swasta yang karyawannya pernah mencapai 6.000 orang, langsung merebak. Khususnya ketika Rudy Ramli, mantan Presiden Direktur, muncul di acara yang dihadiri oleh hampir seribu orang itu.

“Pak Rudy…Pak Rudy …Pak Rudy….”, teriak sejumlah eks anak buahnya Rudy Ramli bersahut-sahutan.

Rudy Ramli pun seperti kebingungan. Sebab tidak semua eks karyawannya itu, masih dikenalinya. Selain faktor usia yang membuat karyawan 18 tahun lalu masih terlihat mudah, di acara itu tampil sudah beruban.

Ada yang 18 tahun lalu – karyawati masih single dan selalu menarik perhatian mata laki-laki, di acara reunian itu muncul dengan penampilan yang sangat berbeda. Tubuhnya sudah memekar dan berkaca mata. Dan seterusnya.

Rudy Ramli tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ketika didaulat untuk memberi sambutan sekaligus menarik undian “Door Prize”. Hadiahnya merupakan hasil patungan semua karyawan. Hadiahnya hanya satu dan lumayan menarik. Hand Phone Samsung Galaxy S7.

Rudy Ramli tak menyangka bahwa semangat patriot yang biasanya hanya ada dalam dunia non-bisnis, kini melekat di kalangan para eks karyawan Bank Bali, sebuah institusi bisnis swasta.

Seusai acara itu, Rudy Ramli kemudian berpikir apakah dia harus terjun mengembalikan Bank Bali lagi atau bagaimana ?

Bagi saya yang sempat menjadi Media Officer-nya di tahun 1999 pun, saat Bank Bali sedang ramai-ramanya disorot dengan apa yang disebut “Cessie” Bank Bali, juga sempat bertanya.

Apa tidak ada keinginan untuk membangun atau merancang agenda; “Kembalikan Bank Bali ku?”.

Rudy yang tahun-tahun belakangan ini sedang membangun kembali bisnisnya di luar perbankan, hanya tersenyum. Senyum khasnya yang mengingatkan caranya menghadapi relasi di tahun 1999. Saat itu Rudy Ramli benar-benar sebagai seorang bankir yang teraniaya. (*)

img_20160827_124656 img_20160827_124215

Rudy Ramli, berkaus hitam di tengah karyawan eks Bank Bali

Foto: Derek Manangka

 

Sumber: http://slaras.id/2016/11/20/rudy-ramli-bankir-teraniaya/

Posted on

Menggugat Pengambilalihan Bank Bali

screen-shot-2016-11-15-at-2-45-15-pm

Menggugat Pengambilalihan Bank Bali adalah sebuah buku yang didedikasikan untuk para Ex Karyawan Bank Bali yang sudah berjuang tanpa mengenal lelah.

Berikut adalah link untuk mendownload soft copy buku dan order buku yang sudah dicetak:

http://www.bankbali.co.id/index.php/bukumenggugatpengambilalihanbankbali/

Posted on

History of Bank Bali

Sejarah perkembangan Bank Bali bukan hanya mengurangkan kurun waktu usia Bank Bali sejak tahun 1954, tetapi terdiri dari pilar-pilar yang merupakan tahapan-tahapan suka duka kehidupan Bank Bali. Pilar-pilar perjalanan Bank Bali ditandai dengan perubahan logo. Adapun pembabakan sejarah Bank Bali adalah sebagai berikut:

  1. Tahap Awal Pendirian : pada saat Bank Bali bernama Bank Persatuan Dagang Indonesia sejak dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1954 di daerah Jakarta Kota tepatnya di Jl. Telepon Kota No. 2. Setahun kemudian pindah ke Jl. Pasar Pagi No. 24. Tanggal 5 Januari 1955, bank mulai beroperasi sebagai bank umum.
  2. Tahap Perkenalan : pada saat Bank Persatuan Dagang Indonesia berubah nama menjadi Bank Bali pada tanggal 5 Oktober 1971.
  3. Tahap Pengembangan : sesuai dengan bentuk logonya yang berbentuk dua daun pintu yang juga mengambil bentuk initial “BB”, berusaha mengembangkan kemampuan teknis dan pengembangan wilayah operasinya.
  4. Tahap Pemantapan : ditandai dengan berubahnya logo menjadi dua telapak tangan yang melindungi telur dengan kokoh dan tegar, lalu diabstraksikan pada logo dalam bentuk garis-garis simetris dan diagonal yang apabila diamati secara cermat juga merupakan bentuk angka delapan aksara China. Perubahan logo baru tersebut diresmikan penggunaannya dengan mengambil waktu yang dianggap langka dan sakral yakni tanggal 8 Agustus 1988, pukul 08.00. Ini adalah suatu momentum yang tepat karena tulisan Bank Bali sendiri juga terdiri dari delapan huruf. Jadilah saat peresmian itu sebagai 8-8-88-8.  Dengan kondisi yang lebih mapan, maka Bank Bali memantapkan diri untuk meraih perbankan sempurna.